Untung ada tontonan Piala Dunia. Andai tidak ada (Piala Dunia), kasus penggeledahan rumah/kediaman Jampidsus (FA) dan di belasan lokasi lain akan membuat suhu politik jadi mendidih. Apakah ini reality show, atau drama penegakan hukum. Akankah terjadi lagi drama, seperti ‘Cicak versus Buaya’ atau publik akan melihat episode lain yang lebih seru?!
Indonesia hari-hari ini gegap gempita, riuh, penuh warna. Untung ada Piala Dunia, jadi tsunami nestapa yang begitu ‘ngeri-ngeri sedap’ tak lantas membuhul duka lebih dalam. Simak saja, kayak di film Bollywood, masak dua institusi penegak hukum, Korps Bhayangkara dan Korps Adhyaksa berselip langkah. Miris, FA tokoh yang digadang-gadang menjadi Jaksa Agung, sebelumnya Jampidsus dibebes operasi senyap.
Mission full possible, publik dibuat termehek-mehek, dan keluarga besar Korps Adhyaksa tercekat, tak bisa berkata apa-apa lagi, persis gol Spanyol di menit akhir saat meladeni (anak emas FIFA) Argentina. Andai tidak lagi demam Piala Dunia, kasus FA pasti viral membahana menyihir warga negeri ini.
Maaf, atau bisa jadi, sang mastermind malah sudah menghitung ikhwal aspek. Sikat, momentum emasnya tidak bisa diundur, begitu kalkulasinya, maka cuzz eksekusi senyap dituntaskan tanpa menunggu ba bi bu.
Konon Presiden Prabowo meradang dan marah! Wajarlah beliau begitu, karena operasi menjagal FA sama sekali tidak dilapori terlebih dulu. Sebegitu dramatisnya, sebegitu rapinya, aneh bin ajaib orang nomor satu di Republik ini ‘ditelap.’
Apa benar ada pembangkangan, siapa dalang yang memicu pagebluk di palagan Kurusetra ini. Spekulasi liar berseliweran, FA ditarget lantaran berpindah ke lain hati. Nah hati siapakah, dan hati yang manakah, yang tak jadi benci, jika di depan mata dia berubah, kita harus sabar menunggu.
Kasus Febrie mengingatkan tragedi yang menimpa Budi Gunawan (BG) ketika dinominasikan jadi Kapolri. Tiba-tiba KPK yang ketika itu dinahkodai Abraham Samad menetapkan jadi TSK. Sangkaannya waktu itu soal rekening gendut.
Ikhwal ini yang mencuatkan geger Cicak vs Buaya. Andai tidak ada ontran-ontran di atas, bisa jadi Budi Gunawan mulus melenggang menjadi Tribrata Satu. Tapi apa boleh buat, bisa jadi tragedi FA mirip-mirip peristiwa yang dialami BG, ketika itu.
Dinamika yang menyalak hari-hari ini, seperti kasus FA, apakah berelasi atau beririsan dengan seri tulisan ini ‘Prabowo – Gibran, duet atau duel?!’. Dalam terminologi Jawa ada istilah ‘otak-atik gathuk.’ Apa benar patron-patron negeri ini sedang dilanda sengkarut sikap.
Bisik-bisik di Pos Ronda dan berita liar di media sosial, operasi senyap terhadap FA adalah titah sang patron satu. Patron satu adalah tokoh yang mendukung patron dua untuk menjadi nahkoda ‘kapal besar’ ini. Selain dua patron tersebut, siapa lagi patron-patron yang lain, info bisik-bisik dari Pos Ronda juga, termasuk jadi patron adalah Mak Banteng.
Patron keempatnya bukan tunggal, tetapi terdiri dari beberapa ‘naga’, malah dijuluki sembilan naga. Sembilan naga ini bukan sembarang naga. Dalam bukunya, Prabowo Subianto mengidentifikasi ada 1% orang terkaya di negeri ini, tapi kekuatannya luar biasa. Kelompok kecil ini menguasai 36% sampai 38% total kekayaan/pendapatan Indonesia.
Nah jika begini, ente mau bilang ape??
Seperti lampu petromaks kehabisan angin. Apalagi tiba-tiba ada peronda yang nimbrung, “Loe tahu kagak ‘sembilan naga’ itu cuman nurut sama perintahnya patron satu?!”
Malam larut, sepi apalagi laga Piala Dunia sudah usai. Di tengah keheningan menjelang larut sayup-sayup terdengar berita yang diunggah dari gadget peronda yang lain. Entah distimulasi karena aksi Korps Bhayangkara mengobrak-abrik rumah atau kediaman FA, sang Jampidsus, pada Rapat Kabinet Terbatas (Ratas), Presiden dan Wakil Presiden tak duduk bersisihan.
Alakadabra, tobat-tobat, Prabowo dan Gibran tidak bersisihan, apakah ini pertanda perselisihan. Benarkah ini episode yang tak lagi bisa dipungkiri dan publik bisa menilai sendiri adanya duet rasa duel. Wallahu a’lam. (bersambung)
