Prabowo – Gibran, Duet atau Duel?! (2)

Hanifah Sahhan
6 Min Read

Tenang Saja Pak Prabowo, Saya sudah di sini (Ungkapan Gibran saat Pilpres 2024 lalu).

Gibran Rakabuming Raka, merupakan tokoh fenomenal di republik ini dan sekaligus kontroversial. Dia menorehkan pahatan sejarah yang tiada duanya. Sebagai orang nomor dua di negeri dengan penduduk 280 juta jiwa, putra sulung Presiden RI ke-7 ini ibarat satria tanpa tanding. (Maaf) Saya berandai-andai, jika yang menjadi wakilnya, yakni sebagai Wakil Presiden bukan Gibran bisa jadi endingnya lain.

Ikhtiar putra Begawan ekonomi, Soemitro Djojohadikusumo bukan kaleng-kaleng. Mantan Danjen Kopassus di era Orba ini tercatat pernah berjuang mengikuti Konvensi Capres yang digelar Partai Golkar. Meski tumbang, Prabowo tak putus nyali. Ikhtiar lanjutnya dijalani tahun 2009 menjadi Cawapres mendampingi Megawati, gagal!

Ikhwal ini sempat mencuatkan adanya rumor ‘perjanjian’ Batu Tulis. Apa itu perjanjian Batu Tulis, secara resmi tidak pernah dipublikasikan, tetapi selentingan yang menguar ke publik PDI Perjuangan bakal mendukung Prabowo di Pilpres berikutnya.

Benar atau salah, tidak ada unjuk bukti, yang bisa kita lihat pada Pilpres Prabowo-Hatta Rajasa kalah dengan kandidat yang diusung PDIP, yakni duet Jokowi-Jusuf Kalla.

Kalah lagi Prabowo toh tidak menyerah, Pilpres 2019 maju lagi. Kali ini cucu pendiri BNI 46 berpasangan dengan tokoh muda, Sandiaga Uno. Tragisnya pasangan yang secara chemistry cukup ideal, namun tak mampu mengungguli Jokowi-Ma’ruf Amin. Sejumlah analisis, termasuk media asing menyoroti keras Pilpres paling dahsyat sepanjang sejarah Indonesia.

Kalah lagi Prabowo toh tidak menyerah, Pilpres 2019 maju lagi. Kali ini cucu pendiri BNI 46 berpasangan dengan tokoh muda, Sandiaga Uno. Tragisnya pasangan yang secara chemistry cukup ideal, namun tak mampu mengungguli Jokowi-Ma’ruf Amin. Sejumlah analisis, termasuk media asing menyoroti keras Pilpres paling dahsyat sepanjang sejarah Indonesia.

Rumor dan sinyalemen politik yang berkembang Prabowo kalah karena instrumen penyelenggara diduga masuk angin. Ibarat ban mobil sebelum sampai finish sudah gembos akhirnya kembali gagal. Yang elok, meski keok Prabowo tak surut, malah dia masuk dalam kabinet sang rival, yakni Joko Widodo.

Keputusan yang memicu tsunami dahsyat. Prabowo menerima ajakan masuk kabinet, dan memangku amanah sebagai Menteri Pertahanan. “Saya ambil keputusan ini, bukan untuk sebuah ambisi, bukan untuk pribadi Prabowo, tetapi demi NKRI, demi Merah Putih,” begitu pernyataan ayah dari Didit Hediprasetyo, buah kasihnya dengan Titiek Soeharto.

Sejoli itu, Prabowo dan Titiek harus ‘dipisahkan’ karena imbas turbulensi politik. Sang Jenderal (Prabowo) dihardik Jenderal Besar Soeharto, sang mertua meninggalkan Cendana. Konon sang Jenderal Besar mengatakan, pergi dan jangan kembali sebelum seperti saya. Apa maksud ucapan, “Menjadi seperti saya?”

Kini Prabowo Subianto telah menjadi nahkoda Republik ini, yakni Presiden RI ke-8. Metamorfosa panjang telah dijalani dengan berbagai rupa. Salah satu sisi yang menjadi pahatan narasi publik adalah posisi sang Wakil, yakni Gibran Rakabuming Raka. Pertanyaan yang menjadi judul kolom Jayanto Arus Adi, Prabowo-Gibran, Duet, atau Duel?!, silakan kita maknakan sendiri-sendiri.

Satu hal yang ingin saya sisipkan menjadi sebuah renungan bersama, duet itu tak lepas dari sang maestro, siapa lagi kalau bukan the soul of wong cilik, Joko Widodo!! Dengan segala warna, dengan segala narasi Joko Widodo adalah the most inspiring person di Republik ini. Bisa jadi, dan itu sah-sah saja ada pendapat, andai tidak ada Gibran (baca Joko Widodo) Prabowo susah (atau tidak akan jadi Presiden).

Analisis di atas, sebagai sebuah narasi saya memberi garis bawah, untuk dua hal. Pertama, sebagai orang beriman, perjalanan Prabowo adalah simbolisme kuasa Tuhan, qodarullah! Perjuangan, ikhtiar sang tokoh, yakni Prabowo Subianto telah melewati batas keteguhan, dan dengan penuh ketangguhan, karenanya secara spiritual Allah mengizinkan, mengabulkan usahanya, menjadi Presiden RI ke-8.

Di sisi lain, secara obyektif faktor Gibran (baca Jokowi) adalah fenomena kasat mata secara kalkulasi matematis geopolitik memberi kontribusi cukup dominan. Realitas ini melahirkan posisi duet itu akan menjadi duel, ketika konsesi-konsesi yang mengiringi bersilang jalan.

Parameter yang dapat menjadi indikator untuk mendalami secara lebih utuh adalah, bagaimana duet itu ditunaikan dalam menjalankan roda pemerintahan sehari-hari. Apakah relasi keduanya berjalan sebagai duet strategis, atau duet plastis, simbolis semata.

Adakah pembagian tugas keduanya berjalan, seperti Prabowo sebagai figur senior berfokus pada kebijakan makro, rekonsiliasi politik, pertahanan, dan diplomasi internasional (luar negeri). Sementara Gibran, dengan representasi mudanya, berfokus mengawal program domestik, blusukan, dan proyek-proyek taktis (seperti makan bergizi gratis dan digitalisasi).

Secara anatomis matematis sesungguhnya Prabowo dan Gibran saling membutuhkan. Gibran sebagai Jokowi Jr (dan gerbong pendukung Jokowi) dapat berkontribusi besar untuk menjaga stabilitas politik dan basis massa, terutama di Jawa Tengah dan kalangan pemilih muda. Sebaliknya, Gibran membutuhkan panggung kepresidenan ini untuk menabung investasi politik jangka panjang menuju 2029 atau 2034. (bersambung)

Share This Article
Tidak ada komentar