Mudik, entah apa makna substantifnya ketika harus dideskripsikan. Ada yang memahat atau memaknakan mudik artinya ‘mulih ndisik’. Pulang, menengok kampung halaman, tempat keluarga, ujung-ujung (sungkem-silaturahmi) pada orang tua, dan sanak saudara.
Satu hal yang pasti mudik telah menjelma menjadi sebuah revolusi peradaban. Revolusi peradaban! Mudik bukan lagi sekadar tradisi, jutaan jiwa melakukan mobilitas yang sama pada momen yang sama pula. Bagai kena sihir pergerakan mudik menghadirkan fenomena multidimensional yang luar biasa.
Ingat tragedi”Brexit” (Brebes Exit) – 2016. Peristiwa tragis begitu naif, dan konyol, apalagi terjadi di zaman yang sudah sangat modern. Tragitragedi (baca: tragedi tragis) kepiluannya melebihi melofilm Bollywood, atau sinetron-sinetron yang menguras air mata di televisi.
Kemacetan total selama lebih dari 20 jam di pintu keluar tol Brexit (Brebes Exit) dipicu penumpukan kendaraan secara ekstrem. Akses keluar, yakni arteri peyangga tidak mampu menampung volume kendaraan yang diluar kalkulasi. Akhirnya kemacetan ekstrem berkomplikasi bermacam-macam implikasi.
Situasi mencekam, kelaparan massal, kehausan parah, kehabisan BBM, akses keluar buntu. Bayangkan kita terjebak macet di tol. Tak pelak, bukan hanya kelaparan, haus yang ekstrem, buang air kecil dan besar di tempat tidak terhindarkan. Belasan pemudik meninggal dunia. Bukan karena kecelakaan benturan, melainkan karena kelelahan ekstrem, dehidrasi, dan paparan gas beracun (karbon monoksida) di dalam mobil yang terjebak macet total di bawah cuaca panas.
Tragedi Brexit menjadi tonggak penting yang membukakan mata decicion maker melakukan terobosan nyata. Kasus demi kasus yang terjadi setiap kali mudik, sebelum tragitragedi Brexit nyaris tanpa evaluasi dan antisipasi ekstra. Alhasil terjadi berulang dan berulang. Tragitragedi Brexit menjadi martir yang tidak saja menyadarkan, tetapi menggerakan aspirasi publik agar negara lebih tanggap dan bertanggung jawab.
Simak kasus-kasus serupa yang nyaris menjadi kabar buruk setiap kali mudik Lebaran. 2024 terjadi kecelakaan di KM 56 Tol Jakarta – Cikampek. Tabrakan beruntun yang melibatkan sebuah minibus (Gran Max), bus, dan SUV. Penyebabnya pengemudi minibus mengalami kelelahan hebat hingga kehilangan kendali dan masuk ke jalur berlawanan. Seluruh penumpang di minibus tersebut meninggal dunia karena kendaraan terbakar hebat.
Tidak hanya di darat, kecelakaan (laka) laut terjadi 2006, yakni Tragedi KM Senopati Nusantara tahun 2006. Ketika itu masa libur dan Tahun Baru yang berbarengan dengan suasana mudik lebaran merenggut KM Senopati. Kapal feri yang mengangkut ratusan penumpang tenggelam di perairan Mandalika. Akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi menjadi penyulut tragedi kapal tenggelam.
Mengapa Tragedi Masih Berulang?
Terus berulang, dan terjadi, apa pasal yang menjadi pemicu tragedi-tragedi mudik? Ada tiga faktor utama yang selalu muncul dalam setiap evaluas, meliputi: Pertama, Faktor Manusia. Kelelahan (fatigue) adalah pembunuh nomor satu. Keinginan cepat sampai membuat pemudik mengabaikan batas kemampuan tubuh. Ke dua, kelaikan kendaraan. Masih banyak kendaraan pribadi maupun umum yang dipaksakan jalan tanpa servis yang memadai.
Kemudian, ke tiga adalah lonjakan volume kendaraaan secara ekstrem. Infrastruktur sehebat apa pun akan mencapai titik jenuh jika jutaan kendaraan bergerak di waktu yang bersamaan.
Ketiga aspek di atas bertemali dengan buruknya kendali manajemen yang tidak didasarkan pada SOP (standar operating procedure) yang konsiten.
Manipulasi dan korupsi memperparah implementasi di lapangan. Karenanya evaluasi dan format ulang kebijakan tentang mudik harus dilakukan secara komprehensif.
Seluruh stakeholders perlu duduk bersama, negara hadir dengan konsistensi, kukuh memijakkan tata kelola yang rapi, akuntable dan terukur.
Pulang Ke Rumah Batin
Mudik adalah ritual “pulang ke rumah batin”. Kota adalah tempat kita mencari penghidupan, tetapi kampung halaman adalah tempat kita mencari kehidupan dan makna. Mudik bukan sekadar perjalanan pulang kampung ini adalah “operasi logistik” raksasa tahunan yang selalu dibumbui drama, politik, dan tentu saja, kontroversi.
Evaluasi, perbaikan, tata kelola yang terintegrasi menyangkut aspek teknis, ekonomi, sosial, budaya dan agama harus dilakukan secara komprehensif. Tradisi mudik ini spiritnya sama dengan berhaji, juga umroh. Pemerintah, juga stakeholder terkait perlu mereduksi dan belajar dari pemerintah Arab Saudi melakukan tata kelola Umroh dan juga Haji.
Tidak mungkin mudik dilarang, mudik dibatasi, dan kebijakan-kebijakan lain yang sifatnya memasung. Yang perlu dilakukan adalah modifikasi, antisipasi, koordinasi yang rapi, penegakan law enforcement yang ketat, serta melakukan edukasi publik.
Langkah yang simpatik, penerapan one way dan contraflow yang lebih terukur. Pembangunan rest area yang lebih luas dan fungsional. Program Mudik Gratis untuk mengurangi jumlah pemudik motor (yang secara statistik paling rawan kecelakaan).
Revolusi peradaban dalam konteks mudik, seperti yang diurai di awal menjadi narasi ideal dan dapat terus dikembangkan. Bagaimana mengakselerasi banyak gol yang dapat diformulasi menjadi golden goal bersama. Kita melihat sekarang ini mudik bahkan menjelma menjadi sebuah komoditas.
Instansi-instansi, baik itu lembaga pemerintah, maupun swasta, bahkan institusi TNI dan Polri memiliki concern komunal terkait dengan mudik ini. Mudik gratis yang diadakan banyak pihak, mulai dari perseorangan, dan korporasi marak eloknya lagi berkompetisi menghadirkan layanan istimewa.
Perubahan ekstrem pemudik bukan lagi subyek, bukan korban, tetapi obyek dan menjadi primadona. Pemudik adalah raja, maka para pihak, mulai perseorang, seperti politisi, tokoh publik, perusahaan yang sesungguhnya berorientasi pada bisnis menggelontorkan CSR (corporate social responsibility) menjadi charity, indah sekali.
Yang terjadi kemudian adalah pemudik menjadi rebutan. Pemudik adalah komoditas, sebegitu seksinya sampai ada jargon, ‘’Gak Mudik, Gak Patheken!!!’.
Ahaii sebegitukah? Bisa ya, bisa tidak. Satu hal menjadi closing pada kolom ini.
Pembenahan, tata kelola, pelayanan, dan edukasi dengan memanfaatkan segala peluang yang dimungkinkan jangan sampai melahirkan distorsi dan menyisakan residu negatif. Selamat untuk semua pemudik, semoga agenda balik nanti para pemudik tetap mendapatkan pelayanan layaknya raja. Tabik. [H]
