Prabowo – Gibran, Duet atau Duel??
Hari-hari ini negeri kita tengah riang suka-suka. Kata Ustadz Mahfudz Ali, guru, sahabat, senior, juga mantan Wakil Walikota Semarang ini: “Inna ma’al usri yuron wa inna maal usri yusro” menyitir ayat Allah di Al Qur’an. Artinya, “Bahwa di setiap kesulitan ada kemudahan’’ jadi wajar rakyat riang suka-suka, usai didera ketakutan akibat demo dan bakar-bakar di mana.
‘’Arek-arek iku yok opo karepe, demo-demo ae, ojok ngrusak, bengak-bengok nganti bengoren gak papa. Kathik bakar-bakar iku kampungan, iku ngrusak demokrasi, ngrusak sak kabehe,’’ begitu Paidul menimpali sembari bersungut-sungut karena kesel.
Dia juga heran, mengapa ketika itu seperti terlambat mengantisipasi. ‘’Ini pasti ada dalangnya, tidak mungkin ada penjarahan kok seperti ada skenarionya, ambyaaar-ambyaaar,’’celoteh warga lain di Pos Kampling.
Untung kejadian itu tak berlarut, tentara, eeh tentara maksudnya Polisi dapat kembali pegang kendali lagi. Maaf saat demo rusuh, dan penjarahan terjadi polisi seperti mengalami missing in disorder. Alhamdulillah suasana seperti itu segera berlalu.
Meski sedikit telat, gerak cepat dan konsolidasi segera berjalan. Banyak demonstran yang berbuat anarkis, main bakar, memprovokasi massa disikat dan ditangkap.
Polda Jateng misalnya, melihat massa terindikasi mencurigakan tanpa ragu-ragu lagi langsung digiring masuk Mapolda. Jumlahnya tak main-main hampir empat ratusan.
Dengan langkah cepat yang seperti itu (Polda Jateng), alhamdulillah Semarang aman. Andai tidak sat-set, ceritanya bisa jadi lain. Selamat dan patut diapresiasilah Polda Jateng.
Prabowo – Gibran, Duet Atau Duel?
Fenomena demo dan rusuh beberapa waktu lalu tak luput melahirkan sejumlah pertanyaan. Ada apa dengan pemerintahan ini, ada apa dengan TNI dan Polri? Saya mendengar suara-suara sumbang eskalasi politik yang meletup lalu tak lepas dari konteks kohesitas elit politik.
Mafia-mafia memanfaatkan celah yang ada untuk membuat narasi-narasi sungsang. Salah satu yang sering digoreng-goreng adalah mengadu Prabowo dengan Gibran. Kalau Gibran masih dianggap ‘pupuk bawang’ maka sosok yang dijadikan kuda hitam adalah Presiden ke-7 Joko Widodo.
