Tak luput resafel Kabinet Merah Putih, juga demo ugal-ugalan beberapa waktu lalu oleh khalayak dikait-kaitkan dengan tarik menarik kepentingan para mafia. Wuaduuuh, apa iya, Prabowo khan tentara, mantan Dankopasus lagi. Masak kalah sama mafia.
Risalah itu sedikit menghibur, melegakan, dan menjadi harapan bersama. Adem lagi, dia (Prabowo) berani menyikat Riza Chalid yang oleh publik disebut-sebut Raja Minyak baca mafia minyak. Ingak-ingak juga selama ini Riza Chalid selalu luput dari jerat hukum. Sepanjang sejarah negeri ini, siapa pun selalu takluk padanya. Pemimpin negeri silih berganti, presiden-presiden datang dan pergi Riza Chalid aman-aman saja.
Makanya saat Kejakgung mengumumkan dia jadi tersangka publik geger, tsunami spekulasi menyihir jagad pertiwi ini. Ya intinya banyak yang kaget, ‘’Gile bener, ini baru oke. Begini mestinya dari dulu. Rakyat mesti senang, hukum harus ditegakkan.’’ Begitu kira-kira celotehan orang banyak ndlidir.
Raja Minyak disikat, mafianya digulung, pertanyaan susulan yang mengemuka, bagaimana nasib mafia yang lain. Seorang politisi senior berbagi cerita terkait mafia-mafia ini.
Indonesia sudah dalam cengkeraman para mafia ini. Setidaknya, ujar politisi senior tadi, ada sembilan mafia yang mengepung Indonesia. Ada mafia minyak, mafia judi online, mafia tambang (batu baru, dan nikel) mafia tanggul laut, mafia impor beras, mafia hukum, mafia chromebook (laptop), dan mafia birokrasi. Apa itu mafia, kok bisa mereka menancapkan pengaruh begitu kuat?!
Setan Belang
Founding father bangsa telah memagari aturan-aturan, pranata dan konstitusi ketika dilaksanakan secara konsekuen bakal adil dan sejahtera. Tapi itu dia ada setan belang yang mengotori republik, siapa lagi kalau bukan mafia-mafia tadi.
Mafia itu seperti kentut atau gas beracun, seperti tragedi Kawah Sinila dulu. Wujudnya tidak kelihatan tapi nyata. Jurus lancung Riza Chalid misalnya, gak masuk akal mengoplos Ron 90 (pertalite) menjadi Ron 92 (pertamax) yang membuat negara rugi Rp193,7 triliun.
Ambyar… ambyar, remuk… remuk. Sungguh luar biasa. Ini benar benar edan, seperti semangka berdaun sirih.
Ulah ugal-ugalan lain kita bisa lihat, cermati dan jadi buah perenungan, betapa ganjilnya. Betapa tidak, apa ya masuk akal ada laut dipagari. Tidak kaleng-kaleng juga panjang sampai 30 kilometer. Berapa duit habis untuk itu? Bayangkan lagi mereka (baca mafia) mengerjakannya senyap,
Kok bisa senyap, ya bisa dong, ketika itu heboh, di media suasana mendidih, seru garang, ‘’Seret, adili pelaku, cari dalangnya,’’ begitu. Ladallah, sekarang ambyar-ambyar. Publik bahkan sudah lupa, karena kepala pusing melihat demo-demo yang nggegirisi, bar-bar, pakai penjarahan segala.
Saya selalu menyatakan, sama sekali tidak bermaksud dan ingin membela politisi yang rumahnya dijarah, sebut Sahroni, Eko Patrio, Uya Kuya. Saya juga bersimpati, berempati pada Sri Mulyani Indrawati. Ikut sedih menyaksikan rumahnya dirucah, dijjarah, rasanya seperti tubuh balung-balungnya dilolosi, lemes tak berdaya. Saya menangis…
Tragedi demo itu membuat nalar publik syok dan mengalami disorientasi, Bahasa psikologisnya kena mental, jadi phobia, paranoid juga. Astaghfirullah, Gusti Gusti panjenengan mrisani semua ini nggih??? Ungkapan itu tidak bermaksud protes pada Sang Khalik, tetapi di dunia ini, di negeri gemah ripah loh jinawi seringkali bingung kepada siapa harus mengadu.
Seloroh satire dari abdi dalem polowijo, wong cilik dan masyarakat kebanyakan, ketika lapor mengadu kehilangan kambing, malah jadi kehilangan sapi. Ketidakpercayaan pada APH (aparat penegak hukum) terjadi lantaran sering muncul keganjilan-keganjilan menjadi sebuah realitas di depan mata.
Kasus vonis Ronald Tanur misalnya, ada lagi nama Zarif Ricar, dari dua nama itu jadi tengara telak hukum yang begitu gelap. Yaahhh, tapi saya percaya orang baik, orang bersih tetap ada. Sosok seperti Hoegeng pasti tetap ada, dialektika pasti terjadi. Ketika jahiliah, Allah turunkan nabi, ketika angkara murka merajalela, datang Ratu Adil.
Keyakinan lain yang mesti kita semai dan rawat bersama sama adalah seperti kisah di film-film, pada akhirnya kebenaranlah yang jadi pemenang. Biar angjing mengonggong kafilah tetap berlalu.
Wahai Pak Prabowo, sikap dan ganyang terus mafia, seperti cita-cita bapak, dan harapan rakyat mewujudkan keadilan dan kemakmuran untuk rakyat Indonesia. (bersambung)
