Prabowo – Gibran, Duet atau Duel?! (1)

Hanifah Sahhan
5 Min Read

Seorang karib senior, budayawan superkreatif, praktisi hotel kawakan, juga spiritualis, Benk Mintosih pernah memberi afirmasi sosok Gibran Rakabuming Raka.

“Mas Gibran itu fast learner”, begitu ucap Benk, tokoh legendaris Kota Bengawan ini, suatu waktu.

Kami bersua, ‘ngupi darat’ menikmati angkringan malam. Persuaan itu bukan sekadar temu kangen, tapi saya maknakan ‘meguru politik’ pada beliau.

Benk juga bercerita pernah terlibat dalam kegiatan kreatif di Kota Solo awal-awal Gibran jadi Wali Kota. “So far dia oke, program dan capaiannya ketika memimpin (Kota Solo) cukup berhasil,” tambahnya.

Malah, terlepas dari sisi kontroversial di masa-masa awal, kerja putra sulung Joko Widodo ini patut diapresiasi. Ada beberapa jejak sekaligus karya monumental yang menjadi prestasinya.

Cerita kecil dari Benk menjadi catatan tersendiri buat saya. Nama Gibran mencuri perhatian (saya) ketika diperkenalkan ke publik usai Joko Widodo memenangi Pilgub DKI.

Dalam sebuah konferensi pers, ketika itu Joko Widodo menyampaikan terima kasih kepada masyarakat dan Gibran membersamainya.

Bagaimana sikap dan ucapan tengil anak sulung Presiden RI ke-7, yang sekarang telah menjadi RI dua, kita dapat menyimaknya lagi di media sosial.

Kiprah dan debutnya meroket cepat. Bukan hanya fenomenal, di sana (perjalanan karier Gibran) tak luput warna-warni kontroversi.

Tapi concern saya tak berfokus di sisi ini. Karena saya termasuk pihak yang tidak ingin terjebak pada sikap apriori. Manusia bisa berubah, menjadi baik, dan sebaliknya karena banyak faktor, termasuk siapa yang mengelilinginya.

Di sini (terhadap Gibran) saya setuju dengan afirmasi Benk Mintosih. Gibran, ‘fast learner’, cepat belajar dan punya kapasitas. Saat tampil di debat Capres-Cawapres, narasi yang dipaparkan memberi harapan, juga menawarkan sesuatu yang baru!

Bagaimana semua itu berproses, saya tidak terlalu mengambil pusing Karena debat bukan reality show yang sungguh-sungguh, lebih menjad unjuk umuk, adu retorika, dan sejenisnya.

Debat sering kali menyisakan residu pahit, seperti head to head Prabow dengan Anies. Saya menilai Anies kok tega dan bisa-bisanya menghabis Prabowo dengan nilai 11.

Itulah dunia debat, tak lebih dari sekadar panggung sandiwara, tobong (panggung) mereka (para kandidat) bermain sulap, untuk menyihir publik agar kepencut dan memilih dirinya.

Fakta yang tersaji kemudian Prabowo-Gibran tampil sebagai pemenang. Mencermati perjalanan duet kepemimpinan tokoh legendaris, dengan dua kutub kontroversi masing-masing, apa yang bisa dipetik untuk bangsa ini. Janji Prabowo dan wacana yang diartikulasikan Gibran seberapa jauh telah ditunaikan. Duet itu seberapa nyata telah menjadi unjuk pembuktian atas janji-janji kampanye.

Fakta, duet sering kali sekadar menjadi euforia janji, seperti dua insan yang sedang dimabuk cinta. Ingat lirik lagu lawas Rinto Harahap, Dingin, berikut;

Ingin membenci pada siapa?

Tiada salah orang lain yang kau cinta

Bukan, bukan salahmu

Tapi diri ini juga tiada bersalah

Punya rasa, punya mata, punya telinga

Sayang

Kau janjikan berbulan madu

Ke ujung dunia

Kau janjikan sepatuku

Dari kulit rusa

Tapi janji tinggal janji

Bulan madu hanya mimpi

Tapi janji tinggal janji

Di bibirmu

Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka resmi dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pada Minggu, 20 Oktober 2024.

Pelantikan tersebut berlangsung dalam Sidang Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Artinya, Oktober mendatang adalah rentang waktu dua tahun mereka memimpin negeri ini.

Publik, masyarakat, rakyat Indonesia menyaksikan dan dapat bersaksi memberikan testimoni atas duet tersebut. Apakah mereka sungguh-sungguh menunaikan duet menjadi nahkoda kapal induk bernama Indonesia? Atau menukil lirik lagu ‘Dingin’ karena janji tinggal janji, di bibirmu.

Simak di balik fakta yang terlihat, dan rakyat menyaksikan senyatanya ada kekhawatiran memijakkan pada realitas, keduanya tidak sungguh-sungguh berduet, tapi berduel. Kekhawatiran di atas menarik untuk didalami karena menangkap dinamika politik pasca-Pilpres 2024 dan memasuki tahun 2026 kita menangkap nuansa serupa.

Hubungan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kerap dilihat dari dua lensa, yakni duet (harmoni/kerja sama), sebaliknya tersirat duel (persaingan/keretakan).

Tulisan ini lebih menjadi sebuah warning untuk kita sama-sama dewasa mencermati secara obyektif kondisi faktual yang ada.

Harapan juga doa, pilot dan co-pilot selalu seiring, sejalan memenuhi janji menunaikan amanah rakyat dalam menghela negeri ini.

Duet itu harus diselamatkan meski diuji oleh potensi-potensi yang mengganjal baik secara personal, secara geopolitik, dalam konteks domestik (internal) maupun eksternal.

(bersambung)

Share This Article
Tidak ada komentar